Senin, 01 Juli 2013

RAMADLAN BULAN TARBIYAH

Ramadalan adalah bulan tarbiyah (bulan pendidikan), mendidik manusia agar menjadi manusia yang muttaqin, karena dengannyalah kita bisa menjadi manusia yang mulia, sebagaimana firman Allah swt:
ان اكرمكم عـنـد الله اتقا كم

untuk menjadi manusia yang muttaqin, kita harus kembali menteladani kehidupan Rasulullah saw, bebagai panutan kita, agar masyarakat kita menjadi “khairah ummah” (sebik-baik umat) atau dengan kata lain masyarakat ideal. Sebagaimana masyarakat Rasulullah dan khulafaurrasyidin.

          Keagungan nabi Muhammad dengan budi pekerti luhur, akhlak mulia, serta keteladanan, dalam perspektif sejarah tampak jelas telah memberi pengaruh yang luar biasa terhadap dinamika dan pembangunan masyarakat di  masanya dan di masa khulafaurrasyidin. Masyarakat era nabi dan  khulafaurrasyidin, digelari Allah sebagai khaerah umat "masyarakat ideal"  [qs.Ali Imran :110]. Predikat "masyarakat ideal" itu dicapai dengan tiga kriteria. Pertama, melakukan dan menyerukan kebaikan. Kedua, menghindari dan mencegah kemungkaran, dan ketiga, memperkokok keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Masyarakat masa nabi dan khulafaurrasyidin, yang menjalankan tiga langkah itu yang kemudian disebut "masyarakat ideal", agaknya termasuk dalam kategori masyarakat atau Negara yang difirmankan oleh Allah : "negeri yang sejahtera dan mendapat ampunan Allah" ( طيبة ورب غفور بلدة).
Tugas kita sebagai umat Muhammad SAW adalah perupaya terus menerus melakukan identifikasi aspek-aspek kehidupan nabi dan corak dinamika masyarakat di masa beliau, serta mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dewasa ini, sehingga menjadi masyarakat, bangsa, dan Negara yang sejahtera lahir dan batin serta senantiasa dalam bimbingan dan ampunan Allah Rabbul'alamien, dijauhkan dari segala musibah dan mara bahaya.

Sebagai seorang nabi dan Rasul, keagungannya yang melekat adalah keluhuran budi pekerti. Itulah yang ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur'an surah al-Qalam ayat 4:
 وَاِنَّكَ لَعَلى خُلُقِ عَظِيْمِ
( sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur).
Penegasan itu, kita temukan pula dalam surah al-Ahzab ayat 21 :
 رسول الله أسوة حسنة لقد كان لكم فى
 (sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah (muhammad SAW) teladan yang baik).

Atas dasar itulah, Nabi Muhammad SAW menegaskan risalah Kerasulannya : "untuk menyempurnakan budi pekerti dan akhlak"
انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
(sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahklak yang mulia).
Budi pekerti dan teladan Rasulullah yang merupakan bagian penting risalahnya, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ini ditegaskan Allah dalam surah Al-Anbiyaa (21) :107)
 وما ارسلناك الا رحمة للـعـا لمين

kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad), kecuali untuk menbawa rahmat bagi seluruh alam”.
Kehidupan Rasulullah dilihat dari sisi rahmat, paling tidak dapat ditinjau dari dua faktor penting : Pertama : masyarakat manusia kala itu, sudah kehilangan personifikasi panutan yang dapat ditiru dan dijadikan contoh. Kedua : masyarakat manusia, telah kehilangan orientasi nilai moralitas kehidupan dalam bimbingan dan tuntunan agama. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW tampil sebagai sosok moral sempurna, dengan subtansi pendidikan moral ilahiyah, moralitas di bawah petunjuk Allah. Hal ini, dakui sendiri oleh Nabi, sebagaimana sabdanya:
(فاحسن تأديبي  ادبنى ربى
   (Tuhan yang mendidikku, sehingga hasilnya teramat baik).

0 komentar:

Poskan Komentar