Rabu, 01 September 2010

SEJARAH MIMBAR

Suatu ketika Rasulullah saw. sedang duduk bersama para sahabatnya, kemudian datang orang asing yang tidak kenal dengan Rasulullah.Para sahabat meminta izin kepada beliau untuk membuat tempat duduk kusus bagi beliau agar mudah dikenali oleh pendatang asing. Kemudian mereka membangun sebuah gundukan terbuat dari tanah liat sebagai tempat duduk Rasulullah saw. 
Jadi pada awalnya mimbar adalah sebuah gundukan yang terbuat dari tanah liat tempat duduk Rasulullah saw. agar mudah dikenali oleh pendatang asing dan sebagai tempat menyampaikan khuthbah Jumat.
Tampaknya (wallahu a'lam), mimbar yang terbuat dari tanah liat berada di samping batang pohon kurma. Sudah disepakati bahwa pembuatan mimbar dari kayu yang diambil dari hutan dekat Kota Madinah terjadi pada tahun ke delapan atau ke sembilan Hijrah.
Pembuatan Mimbar:
 Bila Rasulullah saw. berkhutbah beliau terpaksa berdiri lama, hal ini dirasakan berat oleh beliau, maka ditancapkanlah batang pohon kurma di samping tempat beliau berkhutbah agar apabila telah lama berkhutbah, beliau dapat bersandar padanya. Hal ini dilihat oleh seseorang yang baru menetap di kota Madinah, ia berkata kepada sahabat yang berada di dekatnya, "Jika aku ketahui bahwa Muhammad (Nabi saw.) akan menyenangiku karena suatu hal yang menyenangkan, pasti akan kubuatkan untuk beliau sebuah mimbar di mana beliau dapat duduk ataupun berdiri sekehendak hati." Berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah saw. kemudian beliau bersabda, "Panggil orang itu!" Setelah itu beliau menyuruhnya membuat mimbar dengan tiga anak tangga. Setelah itu beliau merasa nyaman dalam berkhutbah. 
Tangisan Batang Korma:
1. Ketika Rasulullah saw. tidak lagi bersandar ke batang korma karena telah ada sebuah mimbar sebagai gantinya, batang kurma itu bersedih karena rindu kepada beliau seperti rindunya seekor unta saat berpisah dengan anaknya, maka turunlah beliau dari atas mimbar lalu mengusap batang pohon kurma tadi sampai ia tenang. 
2. Diriwayatkan bahwa yang pertama kali menyuruh membuat mimbar adalah Tamim Ad Darimi yang dilaksanakan oleh Maimun (nama sebenarnya masih diperselisihkan, wallahu a'lam). 
3. Bahwa Rasulullah saw. ketika berkhutbah selalu berdiri di atas anak tangga ketiga dari mimbarnya (paling atas), sedang ketika Abu Bakar berkhuthbah ia turun satu tingkat, begitu juga Umar, turun satu tingkat yaitu pada anak tangga pertama. Adapun Utsman, ia berdiri pada anak tangga paling bawah sambil meletakkan kedua kakinya di atas tanah selama enam tahun masa pemerintahannya. Ketika pengunjung mesjid bertambah banyak, Utsman naik ke anak tangga ketiga, tempat Nabi saw. berdiri, supaya dapat terlihat saat berkhutbah. 
4. Marwan bin Hakam menambahkan tangga keenam pada bagian bawah, dengan demikian mimbar tersebut menjadi lebih tinggi. Alasan penambahan ini dapat ditafsirkan dari perkataannya, "Aku menambahkan (tangga mimbar) padanya hanyalah karena jumlah manusia (umat Islam) sudah semakin banyak.
5. Keadaan mimbar semacam ini berlansung sampai Mesjid Nabi terbakar tahun 654 H. sampai berakhirnya masa Dinasti Abbasiah.
6. Kemudian Mudhaffar penguasa Yaman memperbaharui mimbar, dan dibuatnya mimbar tersebut memiliki dua pegangan dari batang pohon, kemudian meletakkannya pada tempat mimbar Nabi tahun 656 H.
7. Dhahir Ruknuddin Bibris mengirim mimbar dan diletakkannya di tempat mimbar Mudhaffar.
8. Kemudian Dhahir Barquq mengirim mimbar lain pada tahun 797 H. dan diletakkan di tempat mimbar Bibris.
9. Muayyid Syeikh juga mengirim mimbar pada tahun 820 H. Mimbar ini terbakar pada tahun 886 H.
10. Penduduk Madinah membangun mimbar pada tempatnya yang terbuat dari batu dan dicat dengan kapur. Mimbar ini berfungsi sampai bulan Rajab 888 H. kemudian dihancurkan.
11. Di tempat tersebut dibangun sebuah minbar yang terbuat dari marmer oleh Asyraf Qaitbey.
12. Kemudian Sultan Murad Khan mengirim mimbar yang terbuat dari marmer pada tahun 998 H. Mereka membuatnya dengan arsitek yang cukup tinggi, termasuk salah satu keajaiban dunia.
Keterangan Tentang Mimbar Nabi saw.:
1. Tinggi mimbar 2 hasta, 1 jengkal, 3 jari = 125 cm
2. Tinggi anak tangga 1 jengkal 
(ada yang mengatakan sepertiga hasta) = 18 - 25 cm
3. Lebar anak tanggal 1 jengkal = 18 - 25 cm
4. Lebar mimbar 1 hasta = 50 cm
5. Panjang mimbar 1 hasta = 50 cm 
6. Tinggi bulatan pada bagian depan mimbar 
1 jengkal lebih = 25 cm
7. Mimbar Nabi memiliki sandaran yang terdiri dari tiga tiang
Sumber: http://hajj.al-islam.com

0 komentar:

Poskan Komentar