Jumat, 03 September 2010

BIAK

(Sebuah kenangan yang tak terlupakan)
By: abdun albarra
Ini bukan kali pertama aku datang ke Jayapura, ibukota Papua (dulu disebut Irian Jaya). Sesaat turun dari pesawat yang kutumpangi yang ditempuh sekitar 50 menit dari Biak, mungkin ini terakhir kalinya aku ke Jayapura dan juga merupakan perpisahan untuk Biak, yang selama empat tahun aku tinggal di kota ini sebagai abdi Negara dan abdi Masyarakat.
Kenangan manis yang tak akan terlupakan dengan kota Biak - Kota Karang, namun subur, alamnya yang masih natural, meski demikian udaranya agak panas, dengan alamnya yang hijau menyejukkan mata memandangnya membuat terasa hilang panasnya cuaca.
BIAK orang bilang kepanjangan dari Bila Ingat Akan Kembali, kalau kita sudah merasakan tinggal di Biak, memang kebanyakan lebih betah, bahkan ada seorang pensiunan tentara, setelah pensiun beliau pulang ke Jawa, namun hanya kurang lebih satu tahun, kembali lagi ke Biak. Waktu saya tanya, beliau menjawab lebih enak tinggal di Biak dari pada di Jawa. Karena kita (kata beliau) bisa lebih khusu' beribadah. 
Ini kenyataan, kehidupan beragama di kota ini sangat baik, sejauh yang saya alami belum ada gejolak yang signifikan yang berkaitan dengan agama, setiap agama dengan bebas menjalankan kegiatan keagamaannya.
Biak merupakan sebuah pulau dengan pantainya yang bersih, pemandangan birunya air laut dengan riak kecil bagai sebuah tarian yang menyejukkan mata, - kalau kita beruntung bisa melihat sekumpulan lumba –lumba bermain di dekat pantai - saya kalau sedang libur, mandi dan berendam di air laut sampai berjam-jam. Pegunungan dengan tebing yang masih asli dan pohon – pohon besar menghiasi kepulauan ini, kalau kita melihat dari udara begitu indah. Kotanya bersih, bangunan tertata dengan baik, hampir semua jalan beraspal dengan baik, Bandar Udaranya dengan panjang landasan 4000 meter, biasa di singgahi pesawat dari dan ke Honolulu, meski sekarang sudah hampir tidak pernah lagi.
Biak, kota transit, baik laut maupun udara. Apabila kita mau ke Jayapura atau sebaliknya, maka kapal laut atau pesawat udara lebih banyak transit di Biak dulu. Praktis Biak juga merupakan kota jasa, karena Biak merupakan kepulauan, maka sebagai nelayan adalah pilihan utama sebagai mata pencaharian penduduknya. Bahkan dulu ada pabrik pengalengan ikan terbesar se Indonesia, namun entah mengapa sekarang tidak beroperasi lagi.
Biak, dengan masyarakatnya yang multi kultur, hampir semua suku ada di sini, penduduk asli yang sangat berahabat, sangat menghormati kebiasaan dan adat istidadat para pendatang, membuat kehidupan di Biak sangat tentram apalagi masyarakatnya yang suka bergaul, mereka cepat membaur dengan masyarakat lainnya.
Biak yang semakin hari terus membenahi diri menambah kecantikan kota Biak, untuk investasi masih terbuka lebar, siapa yang mau, ditunggu.
Jayapura, 11 Mei 2010

0 komentar:

Poskan Komentar