Selasa, 10 Agustus 2010

BOLEHKAH AKU MEMILIH

 By: abdun albara

Hidup membawa sebuah keinginan -kebahagian yang hakiki -, benarkah ?. Perjalanan hidup yang sudah diatur skenario sang sutradara agung, benarkah ?. tidak adakah campur tangan sang pemain, atau mati bagaikan wayang yang seutuhnya diatur oleh sang dalang. Padahal ada kudrat dan iradatNya yang memberikan pilihan antara ashabul yamin dan ashabussimal, berarti ada pilihan, siapa yang menentukan pilihan, padahal sang Pengatur memberikan pilihan dengan memberikan akal dan hati, memberikan tuntunan untuk memilah dan memilih melalui kekasihNya yang terpilih, masih adakah pilihan ?. Setiap detik perjalan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kenapa dan untuk apa. Kita hanya seorang musafir yang menuju pemberhentian demi pemberhentian sampai kepada kebenaran yang sesungguhnya menuju kebahagiaan hakiki, berarti ada pilihan !.

Dalam perjalan yang pendek Sembilan bulan menuju perjalanan yang juga pendek antara enam puluh dan tujuh puluh tahun – ada yang lebih – sampai pada perjalanan yang stagnan menuju pertanggung jawaban di pengadilanNya, disinilah ditentukan kanan atau kiri, kebahagian hakiki atau penyesalan yang tak bertepi. Berarti ada pilihan !, siapa yang menentukan pilihan ?, pemain atau sutradara ?. padahal katanya semua sudah diatur, sebelum ruh ditiupkan sudah ditulis dalam buku skenario besar, setiap keluar masuknya nafas, langkah kaki dan ayunan tangan, hidup dan mati semua sudah diatur … ,bahkan daun kering yang jatuhpun sudah diatur.

Kalau begitu, apakah hanya mengikuti alur cerita saja tanpa ada pilihan, mengalir bagai air dari lereng gunung menuju lembah dengan riak yang memekakkan telinga, menghempaskan batu cadas, menyeret karang membentuk sebuah danau yang akhirnya diam, begitukah ?. Tapi kenapa ada perintah dan larangan, ada baik dan buruk, apakah itu pilihan atau hanya perputaran waktu yang sudah diatur seperti siang dan malam yang membentuk jadi hari, perputaran hari menjadi minggu tersimpul dalam bulan dan kembali lagi keawal namanya, silih berganti menjadi tahun yang tak tergantikan terus berlanjut sampai akhir riwayat hidup ini, begitukah hidup ini ?.

Sang kekasihNya menyampaikan kita terlahir dalam keadaan fitrah, tergantung setelahnya diisi dengan warna apa, dalam tubuh ada hati dalam hati ada nurani, bisikannya yang sangat halus menuntun kepada kebaikan, dalam kepala ada otak yang terbagi otok besar dan kecil, otak besar terbagi kanan dan kiri, memberikan pertimbangan yang rasional, agar tidak salah melangkah. Hati dan otak bersenergi untuk menentukan pilihan, namun ada juga nafsu yang ikut campur dalam pilihan ditambah lagi makhluk yang satu-satunya dan yang pertama yang dengan kesombongannya membangkang sang Penguasa, mencari teman menuju kehancuran, begitu terbuai dengan ajakannya – terseret - dia tidak bertanggungjawab atas pilih kita, dia akan berkata aku hanya mengajak, kamu yang menentukan, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri dengan pilihanmu, masih adakah pilihan ?. Kalau ingin kebahagian yang hakiki ikutilah kitabullah dan sunnahku, kata al Mustofa yang mulia, berarti ada pilihan, ya memang ada pilihan, walau hidup sudah diatur oleh sang Pengatur namun ketentuan memilih ada pada pemain, dengan petunjuk yang diberikan dengan hati dan otak untuk menentukan pilihan, hanya sampai disitukah dengan pilihan yang dipilih dapat menentukan kanan atau kiri, tidak !, pilihan hanya pembuktian sebagai hamba, pilihan hanya menunjukan kedaifan sebagai hamba, dengan penghambaan itu mengharapkan keridlaanNya dengan ridlaNya akan terilih mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

1 Ramadlan 1431 H

0 komentar:

Poskan Komentar