Rabu, 26 Mei 2010

PAPUA NEGERI IMPIAN

(antara harapan dan kenyataan)
by: abdun albarra

Kalau mendengar kata Papua atau Irian Jaya, orang membayangkan koteka, hutan yang lebat, serba tertinggal. Tapi kalau kita datang berkunjung apalagi tinggal disana, bayangan tersebut akan sirna, kita akan kaget melihat kemajuannya. Apalagi di kota-kota sudah tidak ada lagi orang yang menggunakan koteka. Kemajuan kota-kota di Papua sudah semakin merangkak maju, secara umum tidak jauh ketinggalan dengan kota-kota lain di luar Papua. Meskipun ada hal tertentu yang masih tertinggal, ini lebih disebabkan karena masalah transfortasi yang sangat sulit.
PENDUDUK DAN WILAYAH
Papua (Irian Jaya) merupakan salah satu propinsi di Indonesia, yang terletak paling timur Indonesia dan di bagian Barat kepulauan New Guinea, pada masa Belanda disebut New Guinea Belanda (Dutch New Guinea).
Dengan Ibu Kota Jaya Pura, luas wilayah sekitar 421,981 km² dengan 162, 928 daerah batu-batu-an, berpenduduk sekitar 1.994.532 jiwa (data tahun 2005). Kelompok etnis asli: Melanesia (termasuk Aitinyono, Aefak, Asmat, Agast, Dani, Ayamatu, Mandaca, Biak, Serui).
Agama yang mereka anut: Protestan (51.2 %0, Katolik (25.42 %), Islam (23 %) dan lain –lain (2.5%). Sumber: www.papua.go.id
Dengan jumlah suku lebih dari 200an, dan dengan bahasa masing-masing yang sangat berbeda, namun mereka memiliki bahasa penghubung dengan bahasa resmi Bahasa Indonesia.
Keadaan topografinya bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipenuhi dengan hutan tropika, padang rumput dan lembah. Juga rangkaian pegunungan yang tinggi, dan ada wilayah dengan danau yang indah.
Penduduk asli Papua sejak awal kehidupan, sudah dekat sekali dengan alam, mereka sangat menghargai dan tunduk dengan adat apabila berkenaan dengan alam mereka, bahkan bisa mengalahkan aturan pemerintah, demi sebuat hak adat. Meskipun sebenarnya sangat banyak suku-suku yang ada di Papua yang berbeda karakter dan bahasa mereka, namun ada kesamaan dalam mempertahankan hak atas adat.
Ada ungkapan mama Yosepha Alomang: “ Tanah ini saya punya tubuh, Gunung Nemangkawi ini jantungku, Danau Wonangon ini saya punya sum-sum, Kali ini saya punya nafas….”
Ungkapan ini memperlihatkan kuatnya kepemilikan hak atas alam bagi masyarakat Papua.
Lain lagi ungkapan yang disampaikan Orang Mee: “ maki kouko akoukai “ (tanah adalah ibu – jagalah baik-baik), begitu juga dengan orang Mungmen; mereka memahami tanah adalah ibu kandung mereka, Nimboran percaya bahwa tanah diciptakan oleh seorang nenek tua, sedangkan bagi orang Humbuluk tanah dikonotasikan sebagai rahim perempuan.
Masyarakat Napan di Nabire misalnya, meyakini bahwa hulu sungai Lagari yang dikenal dengan nama Nuba Urigwa adalah tempat sakral, yang menjadi tempat tinggal Kuri. Keyakinan ini membuat masyarakat dari kelompok ini tidak memperbolehkan untuk dirusak, karena kehidupan sungai bersumber pada tanah disekitarnya, yang dianggap sebagai rahim. Begitu juga masyarakat Yaro masih di Nabire, menganggap tanah adalah manusia yang harus dijaga. (baca Tabloid Jubi, 20 Agustus 2007).
Begitu juga dengan suku-suku lainnya, pada dasarnya tanah dan air adalah leluhur mereka yang harus dijaga dan dipertahankan. Keyakinan tanah sebagai ibu, diperkuat setelah agama Kristen masuk di tanah Papua,
SUMBER DAYA ALAM
Papua merupakan wilayah yang paling banyak sumber alamnya, seperti hutannya yang masih luas dan asli, laut dan berbagai biotanya, lahan pertaniannya yang sangat luasa dan subur, hasil buminya yang melimpah, seperti emas, perak, nikel (dan bahan galian lainnya) juga gas dan minyak. Wilayah ini menyimpan cadangan tambang terbesar di dunia, yaitu sekitar 2,5 milyar ton.
Daerah Papua yang bervariasi tersebut, dapat dibagi tiga bagian besar; 1) Penduduk pantai dan kepulauan, dengan ciri khususnya menangkap ikan dan membuat sagu, 2) Penduduk pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung, pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu, dan mengumpulkan hasil hutan, dan 3) Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan berternak walau masih secara sederhana.
Dengan sumber daya alam yang melimpah tersebut seharusnya kehidupan masyarakat Papua lebih makmur, namun kenyataan yang ada sangat jauh berbeda, ini yang harus dikaji ulang, apakah memang masyarakatnya yang belum mampu memanfaatkanya atau adanya ketimpangan dalam hal pengelolaan sumber daya alam tersebut.
AGAMA ASLI ORANG PAPUA
Sejarawan Barat seperti Thomas W. Arnold maupun WC. Klein dalam bukunya “ The Preaching Of Islam” dan “ Neiuw Guinea” menjelaskan bahwa Islam hadir di kawasan Papua tiga abad lebih dulu dari para missionaries Kristen yang pertama (1520) yaitu: C.W. Ottow dan G.J. Geissler yang mendarat di Pulau Mansinam, Manukwari pada tanggal 5 Februari 1855. Kedatangan mereka justru diantar oleh tokoh Islam dari kerajaan Ternate dan Salawati. (baca: Islam atau Kristen Agama Orang Irian ? Pustaka Dai: 2004).
Ottow dan Geissler yang berasal dari Gereja Protestan Jerman, adalah murid Ds. OG. Heldring yang membentuk perhimpunan “Penginjil Tukang” yakni juru injiil yang sekaligus memiliki keahlian dibidang pertukangan dan pertanian, pada tahun 1847. Mereka inilah missionaries handal pada masanya, yang telah sukses menancapkan tonggak Kristenisasi secara permanen di kawasan timur Indonesia, khususnya Papua. ( Baca Majalah Hidayatullah: Islam atau Kristen Agama Orang Papua).
Meskipun demikian, orang asli Papua lebih toleran dan menghormati semua pemeluk agama, ini dapat kita saksikan semua agama memliki tempat ibadahnya dengan bagus dan para penganutnya bisa melaksanakan ibadahnya tanpa ada ganguan.
Pada perayaan hari ulang tahun ke–155 pekabaran Injil di tanah Papua, Gubernur Barnabas Suebu mengatakan, “masyarakat Papua hingga kini tetap menjaga kerukunan hidup antarumat beragama sehingga wilayah itu tetap dalam keadaaan aman dan kondusif”.
Pernyataan ini tidak berlebihan, secara prinsip tidak ada pergolakan yang disebabkan karena agama, semua agama bisa melaksanakan kegiatan keagamaannya dengan tenang. Walau ada geliat kecil berkenaan dengan masalah simbol keagamaan, tapi itu senyatanya bukan murni dari keinginan penduduk asli.
KEBIASAAN
Ada kebiasaan yang tidak umum dilakukan oleh kebanyakan penduduk di Indonesia, yaitu makan pinang dan sirih, pada kebanyakan penduduk di Indonesia yang makan pinang dan sirih itu biasanya hanya orang tua dan lebih khusus lagi adalah wanita, tidak dengan di Papua, yang makan pinang dan sirih dari anak kecil sampai orang tua, baik wanita maupun pria, dari rakyat biasa sampai pejabat. Tidak mengherankan kalau kita masuk lingkungan mall atau bandara ada tulisan DILARANG MAKAN PINANG DAN SIRIH, kenapa ada tulisan ini?, karena kebiasaan mereka membuang sampahnya sembarangan, di jalan-jalan banyak kita lihat cairan yang berwarna merah, sepintas seperti darah, padahal itu adalah buangan dari bekas makan pinang dan sirih.
Ada hal lain yang menjadi kebiasaan orang Papua adalah suka minuman yang beralkohol (minuman keras), sehingga tidak heran kalau kita menemui orang mabuk disetiap sudut kota atau desa, hal ini sudah merupakan hal biasa, meskipun banyak slogan atau spanduk bertuliskan “MABUK BUKAN KEBIASAAN ORANG PAPUA”.
Kebiasaan lainnya adalah sex bebas, tidak mengherankan kalau Papua termasuk daerah terjangkit HIV/AIDS yang terbesar di Indonesia. Disetiap pojok kota banyak kita lihat anjuran agar pakai kondom, bahkan ada satu wilayah tertentu bertuliskan “WILAYAH 100 % WAJIB KONDOM”.
Dari kebiasaan masyarakatnya ini, terkadang sangat berbeda dengan keinginan mereka, mereka menginginkan kemajuan seperti daerah lain, namun tidak dibarengi dengan usaha pembinaan masyarakatnya oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat. Juga tidak mau belajar dengan pendatang yang sudah maju, baik gaya hidup dan kebiasaan terutama dalam hal pendidikan. Sebagaimana di daerah lain dengan adanya pendatang itu menjadi cambuk untuk memacu lebih baik, bukan dianggap sebagai benalu.
Jayapura, 12 Mei 2010

0 komentar:

Poskan Komentar