Rabu, 26 Mei 2010

NEGERI SABA DAN LUMPUR LAPINDO

(cerita empat tahun tragedi, tanpa akhir)
by: abdun albarra
Pada tanggal 15 Mei 2010, untuk pertama kali saya melihat langsung lokasi akibat lumpur di Sidoarjo, sepanjang yang saya lihat bagaikan lautan lumpur yang tidak bertepi.
Mula terjadinya musibah ini, berawal adanya eksplorasi gas milik Lapindo Brantas, pada tanggal 27 Mei 2006, musibah ini mulai terjadi, lumpur panas yang keluar, menggenangi areal persawahan, yang berlanjut sampai ke pemukiman penduduk dan kawasan industri.
Empat tahun sudah tragedi ini, namun tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Kalau melihat imbasnya saya berpikir itu bukan sebuah musibah, namun benar-benar peringatan – kalau tidak dikatakan murka Tuhan (azab) - , namun kita harus berpikir dosa apa yang kita lakukan selama ini.
***
Kalau kita menyimak firman Allah, dalam surat al A’raf ayat 96, yang artinya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka akibat perbuatannya” .
Melihat bencana yang silih berganti, bagai tiada henti, saya berpikir – kalau melihat ayat di atas -, berarti negeri kita ini tidak pandai bersyukur, buktinya bukan berkah yang turun dari langit, atau yang keluar dari bumi, tapi bencana dan musibah yang datang dari atas dan bawah, apabila hujan terjadi banjir, dalam bumi terjadi gempa, badai, tanah longsor, bahkan belum hilang ingatn kita tsunami di Aceh, disusul lagi dengan gempa di Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Sebenarnya, musibah yang beruntun ini apakah memang kuasa mutlak Tuhan atau ada sebab lain, saya melihat tidak sepenuhnya kehendak Tuhan, tapi lebih dari akibat ulah manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah swt, sebagai berikut:
telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena buatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembalai (ke jalan yang lurus). (QS . Ar-Rum [30] : 41)
kalau melihat dua ayat tersebut, saya yakin betul musibah yang terjadi di negeri ini, pertama, karena memang ulah kita, yang tidak mempu menjaga dan melestarikan alam, kita sebagai khalifah, bukan seenaknya mengeksploitasi alam, justru sebagai khalifah harus menjaga dan memelihara alam mini. Kedua, karena iman kita yang kurang, kita hanya sebatas percaya dengan Allah, belum sampai meyakininya; buktinya, kita percaya Allah Maha Melihat,Maha Mendengar, Maha Kuasa, namun belum yakin, kenapa, kalau betul percaya dan yakin, maka satu detik pun kita tidak akan mampu berbuat maksiat kepadaNya. Masih banyak diantara kita yang melakukan penipuan, penyelewengan, ketidak adilan, hanya karena merasa berkuasa, hanya karena tidak ada yang lihat. Kemaksiatan bahkan ampai kepada perbuatan syirik, merajalela di negeri ini, orang berbuat maksiat sudah tidak merasa malu lagi, bahkan seperti bangga dengan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Peringatan demi peringatan yang Allah berikan, namun tidak ada kesadaran, baik rakyatnya lebih-lebih pejabatnya. Mereka selalu saja melakukan kemaksiatan demi kemaksiatan.
Mari kita lihat kisah kaum Nabi Musa as. Ummat pada zaman Nabi Musa as, telah melampai batas, mereka senantiasa menurutkan hawa nafsu mereka, mereka sombong, egois dan tidak mentaati ajaran agama. Mereka selalu melakukan perbuatan maksiat, berbagai perbuatan mungkar mereka lakukan, yang di pimpin oleh Fira'un sang Raja, dan Qarun sebagai konglomeratnya.
Nabi Musa telah menasehati mereka, tapi mereka tidak peduli akan nasehat dan peringatan tersebut, kemudian Allah timpakan musibah kepada mereka; berupa: serangan nyamuk dan belalang, kekeringan, lahan pertanian mereka hancur.
Walau pun mereka telah mendapat cobaan dari Allah tersebut, tapi tidak membuat mereka sadar, dan kembali kejalan Allah, bahkan mereka makin sombong, kemaksiatan makin merajalela, bahkan seolah olah di legalkan oleh Penguasa.
Akhirnya Allah menghacurkan mereka; Fira'un dan pengikutnya di tenggelamkan Allah di laut Qulzam, sedangkan qarun beserta seluruh kekayaan nya diluluh lantakkan dan ditenggelamkan ke dalam perut bumi.
Coba kita simak firman Allah dalam QS: Al 'Araf: 133:
" Maka Kami kirimkan kepada mereka (Firaun dan pengikuitnya) angin topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum berdosa"
Kembali kita menengok negeri kita, pada tahun tujuh puluhan, bahkan ada lagu, mengibaratkan negeri ini lautnya sebagai kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, karena negeri ini sangat sejahtera, aman sampai kita mencapai swasembada pangan. Dengan hasil pertaniaan yang melimpah, hasil hutan yang sangat banyak, barang tambang yang melimpah, hasil laut yang luar biasa, masih banyak lagi yang di miliki oleh negeri ini, sampai ada istilah; Namun kenapa sekarang negeri ini bagaikan kakek tua yang keropos, berjalan terseok seok.
Apakah karena tidak mensyukuri nikmah Allah yang diberikan kepada negeri ini ? kita bisa lihat dan rasakan sendiri.
Kemudian kembali kita perhatikan dan merujuk pada cerita zaman nabi Musa as, begitulah negeri kita ini, karena sudah banyak melakukan kesalahan, penyimpangan, ketidak adilan, keserakahan. Perbuatan maksiat kita anggap seperti nyanyian merdu yang membuai, bagaikan angin sore yang membuat kita terlena dan terbuai. Ini sudah keterlaluan. Mereka shalat, namun shalatnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Namun nafsunya menyelimuti jiwanya, menutup semua ajaran agama yang benar, karena melihat indahnya sebuah kertas yang bernama uang, mereka rela bukan saja mengorbankan dirinya, bahkan menggadaikan agamanya.
***
Kembali ke lumpur Lapindo di Sidoarjo, bagaikan cerita negeri Saba, yang Allah tenggelamkan, karena perbuatan rakyat dan pejabat nya yang sudah tidak taat lagi kepada Allah. Begitulah keadaan di Sidoarjo, karena berapa banyak kampung dan desa, yang tenggelam, bagai di telan bumi, tidak ada tersisa sedikitpun, semua rata dengan lumpur. Melihat hal ini tidak ada kesadarankah dari kita, baik rakyatnya maupun pejabat negeri ini. Wallahu ‘alam.
Kota Baru, 26 Mei 2010.

0 komentar:

Poskan Komentar