Monday, May 31, 2010

Jamaah Tabligh, Berdakwah di Negeri Konflik

Madrasah Arabia Tableeghe Markas Raiwind adalah Pusat Dakwah Jamaah Tabligh di Pakistan. Meski keadaan dalam kekacauan di Pakistan, baik dari sisi keamanan, politik dan juga ekonomi dengan semakin mahalnya kebutuhan hidup, tetap mengirim para dainya ke seluruh penjuru negeri Pakistan. Pengiriman keluar negeri pun terus dilakukan.
Salah satu fakta menarik tentang Jamaah Tabligh adalah, semua pihak yang bertikai, baik dari kelompok Taliban, aparat keamanan, militer dan pemerintah, selalu menyambut para aktivis Jamaah Tabligh dengan ramah. Karena salah satu alasan yang disampaikan adalah, menyebarkan rasa persaudaraan dan persatuan sesama Muslim.
Bahkan pemimpin Jamaah Tabligh untuk daerah Swat, Haji Bakh Munir mengatakan ketika bentrok senjata antara pihak Taliban dan militer Pakistan di Swat, semua anggota aktif Jamaah Tabligh yang tinggal di Swat selamat dan tidak ada yang tewas. ”Allah ingin menunjukan kekuasaan-Nya agar kerja dakwah bisa hidup di negeri yang penuh konflik ini. Semua semata-mata pertolongan Allah SWT,” ujarnya.
Dalam setiap kesempatan tabligh akbarnya, Jamaah Tabligh di seluruh kota-kota di Pakistan selalu berjalan dengan aman dan damai. Masjid pusat Jamaah Tabligh di Raiwind, Lahore hampir setiap harinya selalu dipenuhi jamaah sampai sepuluh ribu orang. Kebutuhan makan dan minum mereka dilayani oleh Masjid Raiwind.
Raiwind adalah kota kecil yang jaraknya 25 km dari Lahore. Di Raiwind tiap tahun selalu diadakan tabligh akbar yang dihadiri sampai dua juta orang, dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Usaha dakwah dan tabligh sudah dimulai semenjak tahun 1928 ketika negara India dan Pakistan masih satu negara.
Sumber: http://www.sabili.co.id

Wednesday, May 26, 2010

NEGERI SABA DAN LUMPUR LAPINDO

(cerita empat tahun tragedi, tanpa akhir)
by: abdun albarra
Pada tanggal 15 Mei 2010, untuk pertama kali saya melihat langsung lokasi akibat lumpur di Sidoarjo, sepanjang yang saya lihat bagaikan lautan lumpur yang tidak bertepi.
Mula terjadinya musibah ini, berawal adanya eksplorasi gas milik Lapindo Brantas, pada tanggal 27 Mei 2006, musibah ini mulai terjadi, lumpur panas yang keluar, menggenangi areal persawahan, yang berlanjut sampai ke pemukiman penduduk dan kawasan industri.
Empat tahun sudah tragedi ini, namun tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Kalau melihat imbasnya saya berpikir itu bukan sebuah musibah, namun benar-benar peringatan – kalau tidak dikatakan murka Tuhan (azab) - , namun kita harus berpikir dosa apa yang kita lakukan selama ini.
***
Kalau kita menyimak firman Allah, dalam surat al A’raf ayat 96, yang artinya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka akibat perbuatannya” .
Melihat bencana yang silih berganti, bagai tiada henti, saya berpikir – kalau melihat ayat di atas -, berarti negeri kita ini tidak pandai bersyukur, buktinya bukan berkah yang turun dari langit, atau yang keluar dari bumi, tapi bencana dan musibah yang datang dari atas dan bawah, apabila hujan terjadi banjir, dalam bumi terjadi gempa, badai, tanah longsor, bahkan belum hilang ingatn kita tsunami di Aceh, disusul lagi dengan gempa di Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Sebenarnya, musibah yang beruntun ini apakah memang kuasa mutlak Tuhan atau ada sebab lain, saya melihat tidak sepenuhnya kehendak Tuhan, tapi lebih dari akibat ulah manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah swt, sebagai berikut:
telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena buatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembalai (ke jalan yang lurus). (QS . Ar-Rum [30] : 41)
kalau melihat dua ayat tersebut, saya yakin betul musibah yang terjadi di negeri ini, pertama, karena memang ulah kita, yang tidak mempu menjaga dan melestarikan alam, kita sebagai khalifah, bukan seenaknya mengeksploitasi alam, justru sebagai khalifah harus menjaga dan memelihara alam mini. Kedua, karena iman kita yang kurang, kita hanya sebatas percaya dengan Allah, belum sampai meyakininya; buktinya, kita percaya Allah Maha Melihat,Maha Mendengar, Maha Kuasa, namun belum yakin, kenapa, kalau betul percaya dan yakin, maka satu detik pun kita tidak akan mampu berbuat maksiat kepadaNya. Masih banyak diantara kita yang melakukan penipuan, penyelewengan, ketidak adilan, hanya karena merasa berkuasa, hanya karena tidak ada yang lihat. Kemaksiatan bahkan ampai kepada perbuatan syirik, merajalela di negeri ini, orang berbuat maksiat sudah tidak merasa malu lagi, bahkan seperti bangga dengan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Peringatan demi peringatan yang Allah berikan, namun tidak ada kesadaran, baik rakyatnya lebih-lebih pejabatnya. Mereka selalu saja melakukan kemaksiatan demi kemaksiatan.
Mari kita lihat kisah kaum Nabi Musa as. Ummat pada zaman Nabi Musa as, telah melampai batas, mereka senantiasa menurutkan hawa nafsu mereka, mereka sombong, egois dan tidak mentaati ajaran agama. Mereka selalu melakukan perbuatan maksiat, berbagai perbuatan mungkar mereka lakukan, yang di pimpin oleh Fira'un sang Raja, dan Qarun sebagai konglomeratnya.
Nabi Musa telah menasehati mereka, tapi mereka tidak peduli akan nasehat dan peringatan tersebut, kemudian Allah timpakan musibah kepada mereka; berupa: serangan nyamuk dan belalang, kekeringan, lahan pertanian mereka hancur.
Walau pun mereka telah mendapat cobaan dari Allah tersebut, tapi tidak membuat mereka sadar, dan kembali kejalan Allah, bahkan mereka makin sombong, kemaksiatan makin merajalela, bahkan seolah olah di legalkan oleh Penguasa.
Akhirnya Allah menghacurkan mereka; Fira'un dan pengikutnya di tenggelamkan Allah di laut Qulzam, sedangkan qarun beserta seluruh kekayaan nya diluluh lantakkan dan ditenggelamkan ke dalam perut bumi.
Coba kita simak firman Allah dalam QS: Al 'Araf: 133:
" Maka Kami kirimkan kepada mereka (Firaun dan pengikuitnya) angin topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum berdosa"
Kembali kita menengok negeri kita, pada tahun tujuh puluhan, bahkan ada lagu, mengibaratkan negeri ini lautnya sebagai kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, karena negeri ini sangat sejahtera, aman sampai kita mencapai swasembada pangan. Dengan hasil pertaniaan yang melimpah, hasil hutan yang sangat banyak, barang tambang yang melimpah, hasil laut yang luar biasa, masih banyak lagi yang di miliki oleh negeri ini, sampai ada istilah; Namun kenapa sekarang negeri ini bagaikan kakek tua yang keropos, berjalan terseok seok.
Apakah karena tidak mensyukuri nikmah Allah yang diberikan kepada negeri ini ? kita bisa lihat dan rasakan sendiri.
Kemudian kembali kita perhatikan dan merujuk pada cerita zaman nabi Musa as, begitulah negeri kita ini, karena sudah banyak melakukan kesalahan, penyimpangan, ketidak adilan, keserakahan. Perbuatan maksiat kita anggap seperti nyanyian merdu yang membuai, bagaikan angin sore yang membuat kita terlena dan terbuai. Ini sudah keterlaluan. Mereka shalat, namun shalatnya tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Namun nafsunya menyelimuti jiwanya, menutup semua ajaran agama yang benar, karena melihat indahnya sebuah kertas yang bernama uang, mereka rela bukan saja mengorbankan dirinya, bahkan menggadaikan agamanya.
***
Kembali ke lumpur Lapindo di Sidoarjo, bagaikan cerita negeri Saba, yang Allah tenggelamkan, karena perbuatan rakyat dan pejabat nya yang sudah tidak taat lagi kepada Allah. Begitulah keadaan di Sidoarjo, karena berapa banyak kampung dan desa, yang tenggelam, bagai di telan bumi, tidak ada tersisa sedikitpun, semua rata dengan lumpur. Melihat hal ini tidak ada kesadarankah dari kita, baik rakyatnya maupun pejabat negeri ini. Wallahu ‘alam.
Kota Baru, 26 Mei 2010.

PAPUA NEGERI IMPIAN

(antara harapan dan kenyataan)
by: abdun albarra

Kalau mendengar kata Papua atau Irian Jaya, orang membayangkan koteka, hutan yang lebat, serba tertinggal. Tapi kalau kita datang berkunjung apalagi tinggal disana, bayangan tersebut akan sirna, kita akan kaget melihat kemajuannya. Apalagi di kota-kota sudah tidak ada lagi orang yang menggunakan koteka. Kemajuan kota-kota di Papua sudah semakin merangkak maju, secara umum tidak jauh ketinggalan dengan kota-kota lain di luar Papua. Meskipun ada hal tertentu yang masih tertinggal, ini lebih disebabkan karena masalah transfortasi yang sangat sulit.
PENDUDUK DAN WILAYAH
Papua (Irian Jaya) merupakan salah satu propinsi di Indonesia, yang terletak paling timur Indonesia dan di bagian Barat kepulauan New Guinea, pada masa Belanda disebut New Guinea Belanda (Dutch New Guinea).
Dengan Ibu Kota Jaya Pura, luas wilayah sekitar 421,981 km² dengan 162, 928 daerah batu-batu-an, berpenduduk sekitar 1.994.532 jiwa (data tahun 2005). Kelompok etnis asli: Melanesia (termasuk Aitinyono, Aefak, Asmat, Agast, Dani, Ayamatu, Mandaca, Biak, Serui).
Agama yang mereka anut: Protestan (51.2 %0, Katolik (25.42 %), Islam (23 %) dan lain –lain (2.5%). Sumber: www.papua.go.id
Dengan jumlah suku lebih dari 200an, dan dengan bahasa masing-masing yang sangat berbeda, namun mereka memiliki bahasa penghubung dengan bahasa resmi Bahasa Indonesia.
Keadaan topografinya bervariasi mulai dari dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipenuhi dengan hutan tropika, padang rumput dan lembah. Juga rangkaian pegunungan yang tinggi, dan ada wilayah dengan danau yang indah.
Penduduk asli Papua sejak awal kehidupan, sudah dekat sekali dengan alam, mereka sangat menghargai dan tunduk dengan adat apabila berkenaan dengan alam mereka, bahkan bisa mengalahkan aturan pemerintah, demi sebuat hak adat. Meskipun sebenarnya sangat banyak suku-suku yang ada di Papua yang berbeda karakter dan bahasa mereka, namun ada kesamaan dalam mempertahankan hak atas adat.
Ada ungkapan mama Yosepha Alomang: “ Tanah ini saya punya tubuh, Gunung Nemangkawi ini jantungku, Danau Wonangon ini saya punya sum-sum, Kali ini saya punya nafas….”
Ungkapan ini memperlihatkan kuatnya kepemilikan hak atas alam bagi masyarakat Papua.
Lain lagi ungkapan yang disampaikan Orang Mee: “ maki kouko akoukai “ (tanah adalah ibu – jagalah baik-baik), begitu juga dengan orang Mungmen; mereka memahami tanah adalah ibu kandung mereka, Nimboran percaya bahwa tanah diciptakan oleh seorang nenek tua, sedangkan bagi orang Humbuluk tanah dikonotasikan sebagai rahim perempuan.
Masyarakat Napan di Nabire misalnya, meyakini bahwa hulu sungai Lagari yang dikenal dengan nama Nuba Urigwa adalah tempat sakral, yang menjadi tempat tinggal Kuri. Keyakinan ini membuat masyarakat dari kelompok ini tidak memperbolehkan untuk dirusak, karena kehidupan sungai bersumber pada tanah disekitarnya, yang dianggap sebagai rahim. Begitu juga masyarakat Yaro masih di Nabire, menganggap tanah adalah manusia yang harus dijaga. (baca Tabloid Jubi, 20 Agustus 2007).
Begitu juga dengan suku-suku lainnya, pada dasarnya tanah dan air adalah leluhur mereka yang harus dijaga dan dipertahankan. Keyakinan tanah sebagai ibu, diperkuat setelah agama Kristen masuk di tanah Papua,
SUMBER DAYA ALAM
Papua merupakan wilayah yang paling banyak sumber alamnya, seperti hutannya yang masih luas dan asli, laut dan berbagai biotanya, lahan pertaniannya yang sangat luasa dan subur, hasil buminya yang melimpah, seperti emas, perak, nikel (dan bahan galian lainnya) juga gas dan minyak. Wilayah ini menyimpan cadangan tambang terbesar di dunia, yaitu sekitar 2,5 milyar ton.
Daerah Papua yang bervariasi tersebut, dapat dibagi tiga bagian besar; 1) Penduduk pantai dan kepulauan, dengan ciri khususnya menangkap ikan dan membuat sagu, 2) Penduduk pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung, pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu, dan mengumpulkan hasil hutan, dan 3) Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan berternak walau masih secara sederhana.
Dengan sumber daya alam yang melimpah tersebut seharusnya kehidupan masyarakat Papua lebih makmur, namun kenyataan yang ada sangat jauh berbeda, ini yang harus dikaji ulang, apakah memang masyarakatnya yang belum mampu memanfaatkanya atau adanya ketimpangan dalam hal pengelolaan sumber daya alam tersebut.
AGAMA ASLI ORANG PAPUA
Sejarawan Barat seperti Thomas W. Arnold maupun WC. Klein dalam bukunya “ The Preaching Of Islam” dan “ Neiuw Guinea” menjelaskan bahwa Islam hadir di kawasan Papua tiga abad lebih dulu dari para missionaries Kristen yang pertama (1520) yaitu: C.W. Ottow dan G.J. Geissler yang mendarat di Pulau Mansinam, Manukwari pada tanggal 5 Februari 1855. Kedatangan mereka justru diantar oleh tokoh Islam dari kerajaan Ternate dan Salawati. (baca: Islam atau Kristen Agama Orang Irian ? Pustaka Dai: 2004).
Ottow dan Geissler yang berasal dari Gereja Protestan Jerman, adalah murid Ds. OG. Heldring yang membentuk perhimpunan “Penginjil Tukang” yakni juru injiil yang sekaligus memiliki keahlian dibidang pertukangan dan pertanian, pada tahun 1847. Mereka inilah missionaries handal pada masanya, yang telah sukses menancapkan tonggak Kristenisasi secara permanen di kawasan timur Indonesia, khususnya Papua. ( Baca Majalah Hidayatullah: Islam atau Kristen Agama Orang Papua).
Meskipun demikian, orang asli Papua lebih toleran dan menghormati semua pemeluk agama, ini dapat kita saksikan semua agama memliki tempat ibadahnya dengan bagus dan para penganutnya bisa melaksanakan ibadahnya tanpa ada ganguan.
Pada perayaan hari ulang tahun ke–155 pekabaran Injil di tanah Papua, Gubernur Barnabas Suebu mengatakan, “masyarakat Papua hingga kini tetap menjaga kerukunan hidup antarumat beragama sehingga wilayah itu tetap dalam keadaaan aman dan kondusif”.
Pernyataan ini tidak berlebihan, secara prinsip tidak ada pergolakan yang disebabkan karena agama, semua agama bisa melaksanakan kegiatan keagamaannya dengan tenang. Walau ada geliat kecil berkenaan dengan masalah simbol keagamaan, tapi itu senyatanya bukan murni dari keinginan penduduk asli.
KEBIASAAN
Ada kebiasaan yang tidak umum dilakukan oleh kebanyakan penduduk di Indonesia, yaitu makan pinang dan sirih, pada kebanyakan penduduk di Indonesia yang makan pinang dan sirih itu biasanya hanya orang tua dan lebih khusus lagi adalah wanita, tidak dengan di Papua, yang makan pinang dan sirih dari anak kecil sampai orang tua, baik wanita maupun pria, dari rakyat biasa sampai pejabat. Tidak mengherankan kalau kita masuk lingkungan mall atau bandara ada tulisan DILARANG MAKAN PINANG DAN SIRIH, kenapa ada tulisan ini?, karena kebiasaan mereka membuang sampahnya sembarangan, di jalan-jalan banyak kita lihat cairan yang berwarna merah, sepintas seperti darah, padahal itu adalah buangan dari bekas makan pinang dan sirih.
Ada hal lain yang menjadi kebiasaan orang Papua adalah suka minuman yang beralkohol (minuman keras), sehingga tidak heran kalau kita menemui orang mabuk disetiap sudut kota atau desa, hal ini sudah merupakan hal biasa, meskipun banyak slogan atau spanduk bertuliskan “MABUK BUKAN KEBIASAAN ORANG PAPUA”.
Kebiasaan lainnya adalah sex bebas, tidak mengherankan kalau Papua termasuk daerah terjangkit HIV/AIDS yang terbesar di Indonesia. Disetiap pojok kota banyak kita lihat anjuran agar pakai kondom, bahkan ada satu wilayah tertentu bertuliskan “WILAYAH 100 % WAJIB KONDOM”.
Dari kebiasaan masyarakatnya ini, terkadang sangat berbeda dengan keinginan mereka, mereka menginginkan kemajuan seperti daerah lain, namun tidak dibarengi dengan usaha pembinaan masyarakatnya oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat. Juga tidak mau belajar dengan pendatang yang sudah maju, baik gaya hidup dan kebiasaan terutama dalam hal pendidikan. Sebagaimana di daerah lain dengan adanya pendatang itu menjadi cambuk untuk memacu lebih baik, bukan dianggap sebagai benalu.
Jayapura, 12 Mei 2010