Kamis, 11 Maret 2010

MUSAFIR MENUNGGU KABAR

(dialog antara hati dan otak)
By: abdun albarra
Saat mentari turun, menapaki tangga waktu, sangat tertib satu persatu anak tangga dilewati dengan pasti, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan apalagi mundur ke belakang, tidak…, tak ada keberanian untuk membangkang sang Pemberi titah, tak ada raut penyesalan, meski dia tahu akan diganti oleh rembulan, Tidak ada rasa angkuh, tidak ada rasa dia yang paling besar, dia yang paling bersinar, bahkan dia sempat memberi salam saat berpapasan dengan rembulan, dengan suara yang agung, Allahu akbar…Allahu akbar…., rembulan tersenyum membalasan sapaan mentari, seiring hamba membuktikan kehambaannya, setelah bersuci dengan air sorga.
Aku tidak bisa tidur, suara anjing yang menggonggok keras sekali, teriakan pemuda mabuk, mereka menari, bernyanyi diiringi musik yang sangat keras, tariannya bagai sufi yang sedang bezikir, namun ocehannya tidak jauh beda dengan orang gila, yang karena stress oleh kerasnya kehidupan. Kemaren aku tidak habis pikir, ada rumah sakit pemerintah menolak pasiennya hanya karena dia tidak punya kartu miskin, ada juga pasien yang disandera, karena tidak bisa membayar biaya pengobatan. Ada nenek 70 tahun yang dihukum bukan karena kesalahannya, namun karena cucunya menghilang tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ada lagi pencuri tiga biji coklat (di kampungku disebut kakau) dihukum, sedangkan pencuri uang rakyat milyaran, masih bisa melanggang dengan santainya, seperti tidak berdosa saja. Kalau dihukum, ruang penjaranya bim salabim, berubah jadi kamar hotel bintang lima, sementara yang lain berdesakan dalam satu ruangan yang sempit.
Ah…pemuda pemabuk itu…,
Ada apa, dengan pemuda itu… ?
Apakah mereka besok tidak bekerja….?, tidak kuliah….?, kemana orang tuanya….?
Bagaimana mau kuliah …, bagaimana mau kerja… SD saja tidak tamat…, para cukong selalu bertanya sudah berapa lama pengalaman anda …?, bagaimana bisa berpengalaman wong…, kerja aja belum pernah…,
Tapi yang pake baju merah itu kan sarjana lo…
Sarjana apa…?, kapan kuliahnya…., sejak kecil sampai sekarang dia cuma nongkrong di warung kopi…
Aku pernah liat fotonya pake baju panjang dengan topi seperti kue getas ..itu lo..
Baju toga itu….
Yah …toga, tapi kemaren anak anak di seberang jalan itu juga pake…., apa tadi…
Toga…
Yah… toga, apakah dia juga sarjana..?
Mereka bukan sarjana, mereka baru lulus TK
Ooooh…
Apa bedanya sarjana dengan lulusan TK….?
Mana ku tau, tapi ….eee sarjana itu lulusan apa …?
Emangnya lo kaga tau…?
Iya…, kamu ..?
Sarjana itu…, sarjana itu…., ah… aku juga bingung….
Loh…,kok…, tumben…., kaga pernah makan bangku kuliahan sudah ada gelarnya…., bahkan kalo gelarnya tidak ditulis di depan namanya… dia marah…, ini saya dapatkan mahal lo….,
Lu… ngomong apa…
Sarjana itu ilmu atau uang…, bingung aku…
Kenapa…?
Aku bingung…., katanya sarjana, tapi mirip anak TK
Kenapa….?
Kamu kok tanya kenapa terus…
Gini….aku bingung …nonton berita di TV, ada orang orang yang pakaiannya rapi saling caci maki di depan forum yang mulia di depan orang orang yang terhormat,…eeh …setelah itu mereka berpelukan,…besoknya marah marahan lagi…tau tau nyanyi bareng…
Lalu…!
Lalu apanya…?
Ah… enggak tahu aku..
Lho… gimana kamu ini…, kalo ada sesuatu sampaikan, paling tidak kita bisa dengar apa masalahnya…
Kalo sudah mendengar…, lalu apa solusinya .….?, apa hanya sekedar mendengarkan, dicatat, kemudian disimpan…., sama saja.., katanya penyambung lidah, katanya pengawas, katanya penyeimbang…katanya…katanya…., tambah besar tuh perut …lu
Tak tau lah….!
Ah…aku mau tidur….
Tidur saja kalo bisa…
Gimana aku bisa tidur, kalo kamu ngomong terus…
Jangan cari alasan …
Okay …okay…aku tidak bisa tidur, karena suara itu….
Suara apa…
Ah …masa kamu tidak dengar…, suara gemuruh itu …!
Itu kan suara angin…
Yah…. suara angin, yah…yah…, suaranya merdu sekali, bagai kan alunan musik simponi, suara gendang berdetak keras seirama dengan detak jantungku, gesekan biola mendayu dayu, meninabobokan sang raja, yang selama seminggu ini sibuk menyebarkan para pengawalnya untuk silaturrahmi kepada para petapa di gunung mohon restu agar para rakyat percaya lagi, bersilaturrahmi kepada sang sepi untuk menutupi aib yang akan menjatuhkannya, menutupi keangkuhan yang merobek baju kemuliaannya, menutupi bopeng dengan senyum yang penuh dengan kemunafikan…, karena tersandung kasus kebijakan yang salah atau karena ingin mempertahankan kekuasaan.
Malam semakin larut, keheningan malam semakin terasa, karena suara suara itu telah hilang dibawa angin kemunafikan, demi sepenggal kekuasaan, rela mengorbankan harga diri yang memang sudah tidak berharga lagi, para punakawan tidak bisa lagi melucu, karena mulutnya sudah ditutupi oleh kebosanan, akankan para punakawan akan sembunyi di dalam goa lagi, seperti para ashabul kahfi, karena tidak mampu lagi merobah, sebab suaranya tidak didengar lagi, bahkan nasehatnya hanyut dibawa tsunami, apakah harus kita panggil superman, superboy, atau …, atau …(ah….superme aja direbus enak untuk makan).
Aku jadi ingat tentang superme, suatu hari aku duduk di kedai kopi di pinggir jalan (maksudku trotoar, sebenarnya untuk pejalan kaki, tapi jadi tempat jualan) ada seorang ibu penegmis dengan anaknya yang berumur sekitar lima tahunan, sejak aku duduk minum kopi, anak itu merengek minta belikan superme, ibunya bilang nanti dulu, kalo ibu sudah punya uang, dari pagi belum ada yang mengasih uang. Aku jadi tidak tega.…,ku kasih seribu, ibu itu langsung pergi bersama anaknya ke kios di samping kedai kopi, dia tanya berapa harga superme, penjaga kios bilang seribu…, ibu itu langsung membayar dengan uang yang ku kasih, kebutulan di kios itu ada TV yang sedang menyiarkan berita tentang pejabat yang koropsi ratusan juta rupiah…, rupanya sianak pengemis itu menyimak berita itu, sambil berjalan kembali ke tempat mangkalnya, anak itu tanya kepada ibunya, uang satu juta itu kalo beli superme berapa bungkus bu ?, ibunya tidak menjawab, dia asyik memasukkan bumbu me ke dalam plastiknya sambil mengoyang goyanng lalu menyerahkan kepada anaknya. Kasihan untuk beli sebungkus me saja menunggu setengah hari, lalu bagaimana dia mau beli beras. Katanya orang miskin dan anak terlantar di tanggung negara…
Itukan katanya….
Bagaimana dengan biaya sekolahnya….
Tapi kan sekolah gratis…
Iya gratis SPPnya, di luar SPPnya lebih banyak lagi…
Lo kok bisa begitu….
Iya memang begitu…
Jangan sembarangan kamu ngomong…, entar lu di kerangkeng…
Cuma ngomong saja di kerangkeng….
Itu juga katanya…sih
Tapi kemaren ada yang demo bawa kerbau tidak dikerangkeng…
Ah…sudah…, aku mau tidur….
Jam dinding di ruang tamu berbunyi dua kali, ah…kenapa aku masih belum bisa tidur…, cahaya rembulan sudah tidak keliatan lagi, entah kemana ?, aku malas mencari…, besok juga pasti dia akan datang. Allah hu akbar Allahu akbar…, ah …sudah subuh aku belum tidur. Kembali para hamba yang taat melapor diri kepada sang Penguasa abadi, rembulan pamit untuk istirahat, sang mentari membuka mata sambil tersenyum memberi salam kepada bumi…
Pukul 08:05 aku terbangun, …ah..aku terlambat masuk kantor, aku tergesa gesa gosok gigi, terus mandi dalam hitungan menit aku sudah rapi, siap mau berangkat ke kantor…
Aku bingung kantorku dimana ?, aku kerja dimana ?
Kamu itu bekerja ...di ….dimana ya…
Dimana…? aku lupa..
Aku juga lupa….
Tolong ingatkan aku….,
Kamu kan bukan pegawai atau karyawan…
Ah…aku lupa…, aku bukan pegawai….aku adalah musafir yang sedang menunggu kabar dari nirwana; hendak dibawa kemana negeri ini.
(Biak, 2 Maret 2010)

0 komentar:

Poskan Komentar