Rabu, 17 Februari 2010

AYO NIKAH SIRRI RAME RAME

by: abdun albarra
Pada malam Jum’at yang lalu (kurang lebih satu minggu sebelum tulisan ini ditulis), ada seorang lelaki setengah baya mengetuk pintu rumah tetanggaku, tetangga ku itu seorang pegawai pengadilan agama, aku berpikir pasti ini masalah rumah tangga, pertengkaran suami istri yang mau bercerai, dan pasti sudah parah, karena datangnya malam malam, tidak menunggu besuk pagi kah !, kenapa pikiranku seperti itu, karena laki laki itu datang ke rumah pegawai Pengadilan agama.
Paginya tetangga ku itu cerita, ternyata perkiraanku meleset, lelaki itu datang mau menikahkan keponakannya, yang sudah kebelet mau kawin, bahkan keponakan yang masih gadis muda itu (itu kata laki laki itu menurut cerita tetanggaku), sudah tinggal di rumah calon suaminya ( maksudnya pacar). Dan rencana pernikahannya pada hari ahadnya (jadi tinggal dua hari lagi), lelaki itu sudah datang ke KUA, namun petugas KUA menanyakan walinya, ternyata walinya ada di luar daerah dan tidak menyetujui pernikahan anaknya dengan pemuda itu (pacarnya), oleh Petugas KUA harus ada penetapan wali hakim dulu dari pengadilan agama, oleh sebab itu laki laki itu datang ke rumah pegawai pengadilan agama, minta surat penetapan wali.
Tetanggaku bilang tidak bisa membuat surat secepat itu, ada prosesnya dari pendaftaran selanjutnya disidangkan kalo diterima permohonannya baru keluar surat penetapannya dan itu prosesnya paling cepat satu minggu. Lelaki tersebut memohon dengan memelas agar bisa dibikinkan secepatnya karena undangan sudah terlanjur disebarkan. Tapi karena pegawai pengadilan agama itu menyatakan tidak bisa, akhirnya lelaki itu menikahkan keponakannya tanpa melewati jalur resmi (nikah dibawah tangan) atau yang santer disebut sekarang dengan NIKAH SIRRI.
***

Nikah sirri adalah pernikahan secara rahasia, maksudnya pernikahan mereka tidak dicatatatkan ke KUA, pernikahan mereka hanya memenuhi prosudur agama, memang diadakan keramaian (pesta kecil), walau tidak sedikit yang sama sekali tidak mengadakan pesta, tergantung penyebab atau alasannya kenapa mereka melakukan nikah sirri.
Ada yang berpendapat karena belum siap untuk melakukan pesta, karena pasangan itu masih kuliah (sekolah), sedang pasangan itu sudah dekat sekali, dikhawatirkan akan terjadi perbuatan yang dilarang ole agama (perzinahan), maka mereka dinikahkan dulu oleh orang tuanya.

Memang ada beberapa penyebab kenapa orang melakukan nikah sirri. Sepanjang yang penulis ketahui ada beberapa penyebab, pasangan yang tidak mencatatkan perkawinannya.
1.Karena memang tidak tahu,
2.Karena lokasi KUA, susah di jangkau,
3.Karena masih kuliah (sekolah)
4.Karena poligami, disebabkan tidak ada izin dari istri terdahulu, atau memang ingin merahasikan kepada isteri terdahulu, atau
5.Pernikahan yang bermasalah.
Untuk poin 1, sekarang ini mungkin sudah tidak berlaku lagi, penyebab seperti pada poin 1 itu penulis temukan datanya pada saat penulis masih kuliah sekitar tahun 1985 an, untuk sekarang belum ada data yang resmi.
Poin 2 (khusus di Biak Papua) masih banyak kecamatan yang berada di pulau pulau yang belum / tidak ada KUA nya, kalo mau ke kota yang ada KUA nya harus naik pesawat dengan biaya yang sangat mahal, sedangkan kalo naik kapal memakan waktu sekitar satu hari, itupun kapalnya (kalo lancar) hanya seminggu sekali. Akhirnya mereka nikah tidak dicatatkan di KUA.
Alasan pada poin 3, ini banyak terjadi di lingkungan anak anak kuliah (bahkan ada yang masih SMA) karena orang tua mereka mengkhawatirkan akan terjadi perbuatan yang dilaranga oleh agama, maka mereka nikahkan dulu, yang hanya dihadiri oleh orang tua (keluarga) pasangan itu dan dua orang saksi, nikahnya dilakukan di depan Ustadz atau Kiyai.
Kalo poin 4, ini ada itikad tidak baik dari seorang pria. Kalau seorang pria punya itikad baik, maka dia berani untuk mencatatkan perkawinannya, kalau dia melakukan perkawinan tanpa dicatat, tentu ada sesuatu yang disembunyikan, berarti pria tersebut pengecut. Sebenarnya pernikahan seperti ini telah terjadi penistaan terhadap istri pertama atau adanya kezoliman terhadap perempuan. Apalagi kalo prianya mengaku masih perjaka, padahal sudah punya istri, perkawinan ini ada unsur penipuan.
Sedangkan poin 5, banyak sekali terjadi, salah satunya seperti kasus di atas, namun pada umumnya hal ini terjadi karena sudah terjadi hubungan suami istri, padahal mereka belum nikah, bahkan banyak yang sudah terjadi kehamilan, untuk menutupi aib, lalu ingin dinikahkan secpatnya, sedangkan kalo dinikahkan secara resmi harus mengikuti proses yang membutukan waktu, ditambah lagi wali nasabnya tidak setuju dengan perkawinan mereka, akhirnya mereka mengambil jalan pintas dengan nikah sirri, yang jadi pertanyaan bagaimana dengan walinya ? siapa yang menjadi wali ?.
Padahal kalo kita melihat syarat sahnya perkawinan itu, harus memenuhi ada empat syarat:
a.Sighat (akad),
b.Wali,
c.Dua orang saksi,dan
d.Mahar.
Jadi pernikahan ini tidak sah, karena kurang satu syarat (salah satu syarat tidak terpenuhi), kalo perkawinannya tidak sah, lalu mereka melakukan hubungan suami istri, maka sama saja dengan zinah. Seandainya mereka melahirkan anak perempuan, kemudian anak perempuannya dewasa lalu mau menikah, ayahnya tidak bisa menjadi wali, kenapa ?, karena anak itu dilahirkan dari perkawinan yang tidak sah, maka nisbatnya ke ibu, jadi harus wali hakim. Kalo ayahnya yang menjadi walinya, perkawinan anaknyapun juga tidak sah, terus berlanjut begitu, maka telah terjadi perzinahan turun temurun.
Kalo hal ini terjadi siapa yang bertanggung jawab ?
***
Perkawianan yang tidak dicatatkan di lembaga resmi (KUA) akan berdampak negatif, baik status perkawiannya maupun anak yang lahir dari hasil perkawinan mereka.
Perkawinan yang tidak dicatat, maka tidak ada bukti autentiknya, tentu ada akibat hukumnya, antara lain: berakibat tidak jelasnya status isteri di mata hukum, karena tidak jelasnya status isteri, maka anak yang dilahirkan mereka juga mejadi tidak jelas.
Karena status istri tidak jelas, maka apabila suaminya meninggal dunia, si isteri tidak bisa menjadi ahli warisnya serta tidak bisa menuntut secara hukum atas harta warisan, dan apabila terjadi perceraian si isteri tidak bisa menuntut harta gonogini.
Sedangkan bagi si anak, karena status perkawinan orang tuanya tidak bisa dibuktikan dengan akta autentik, maka si anak tidak ada hubungan hukum dengan ayahnya, si anak hanya ada hubungan hukum dengan ibunya, kata pegawai pengadilan sih sudah ada aturanya yang termuat di dalam UU No.1 Th. 1974 (Undang undang Perkawinan) Pasal 42 dan pasal 43, begitu juga di KHI (Kompilasi Hukum Islam) dalam Pasal 100.
Melihat akibat hukumnya tersebut, sama saja seorang pria telah melakukan kezoliman terhadap perempuan dan tentunya juga terhadap anak yang dilahirkan. Bisa saja si pria menyangkal status mereka kalo sudah terjadi sengketa, perempuannya ditingal begitu saja, anaknya tidak diakuinya, karena tidak adanya bukti tertulis. ( enak betul tuh pria, kata nenek aku sih, habis manis sepah dibuang ).
Kemudian si anak mau sekolah, biasanya kepala sekolahnya tanya mana akta lahirnya ?, ini masalah lagi, mau bikin akta lahir harus ada buku nikah, sedangkan buku nikah tidak punya, lalu mau di kemanakan tuh anak. Dibiarkan saja tidak sekolah, wah.. wah… zolim lagi tuh orang tua kepada anaknya.
Kalo udah tau akibatnya nikah sirri, masih mau nikah sirri juga, silahkan saja atau sekalian saja nikah sirri masal biar rame gitu loh.
Maksud loh….?
Maksud aku …harus dipikirkan lagi dong… kalo mau nikah sirri, terutama bagi wanita, karena ini jelas akan merugikan bagi wanita dan juga anak.
Biak, 17 Pebruari 2010

0 komentar:

Poskan Komentar