Jumat, 22 Januari 2010

LIMA PESAN NABI SAW

by: abdun albarra
Hadits Rasulullah SAW yang artinya: Wahai kaum Muhajirin, ada lima macam bencana jika ditimpakan dan diturunkan kepada kalian yang Aku berlindung kepada Allah, semoga kalian tidak mengalaminya;
Pertama, bila muncul perzinaan di suatu kaum hingga mereka berani melakukan secara terang-terangan, maka akan tersebar di kalangan mereka penyakit yang tidak pernah diderita oleh nenek moyang mereka sebelumnya.
Kedua, bila mereka (suka) mengurangi sukatan dan timbangan, niscaya mereka akan dibalas dengan kemarau panjang, paceklik hebat dan kezaliman para penguasa.
Ketiga, bila mereka enggan mengeluarkan zakat, niscaya mereka tercegah dari hujan yang turun dari langit (kemarau panjang). Sungguh kalau bukan lantaran hewan-hewan, niscaya hujan tidak akan dicurahkan sama sekali.
Keempat, bila mereka merusak janji dengan Allah SWT dan janji dengan RasulNya, niscaya didaulatkan kepada mereka musuh dari luar, lalu musuh itu merenggut sebagian apa yang ada di tangan mereka. (meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan).
Kelima, bila para pemimpin mereka tidak memutuskan perkara berdasarkan kitabullah, niscaya Allah jadikan peperangan antar sesama mereka. (HR Al Baihaqi dan lain-lain, lihat kitab Al Targib Wa Al Tarhih, Madrasah Al Falah, Makkah, hal 41-42).
Lima pesan nabi tersebut, seperti sudah marak di negeri ini, lihat saja masalah perzinahan, baik yang terselubung maupun yang terang terangan, bahkan para pejabat sudah tidak malu lagi, mereka melakukan perbuatan zina, kemudian di rekam, rekaman beredar di masyarakat, ada lagi yang orang pintar dan suci, mereka melakukannya meski tidak secara jelas, namun dengan kepintarannya mereka melakukan dengan berselubungkan agama, seolah olah itu dibenarkan oleh agama.
Para pengusahan atau pedagangnya sudah luntur kejujurannya, bahkan mungkin sudah sirna, para pedang kalau menjual mengurangi timbangan, barang yang rusak ditutupi dengan barang yang bagus, pengusahanya untuk memuluskan usahanya, sogok sana sini, mengerjakan pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang telah dijanjikan.
Para orang kaya bukannya tidak mau mengeluarkan zakat, mereka tetap mengeluarkan zakat, mereka mengeluarkan sendiri dibagi rumah mereka, orang yang berhak menerima berjubel menunggu giliran, yang tidak sedikit berakibat memakan korban, mereka mengeluakan dengan pamer kekayaan.
Janji kita kepada Allah pertama kali waktu di dalam rahim, kemudian berjanji lagi kepada Allah dan Nabi saw, dengan mungucapkan dua kalimah syahadat, namun janji itu dilanggar, orang yang meninggalkan shalat, puasa, zakat, atau tidak mau berhaji, walau dia mampu untuk itu, semua itu termasuk melanggar janji kepada Allah dan Nabi.
Para pengambi kebijakan sudah tidak bijaksana lagi, pengadil sudah tidak adil, mereka memutuskan hanya berdaran untuk rugi bagi dirinya.
Sekarang kita lihat akibatnya, bencana disana sini, namun tidak membuat kita sadar, bahkan semakin parah.
Biak, 9 Agustus 2009

0 komentar:

Poskan Komentar