Sabtu, 28 November 2009

SAPI QURBAN DAN KEMATIAN

by: abdun albarra

wah ...sapi qurban sudah datang niih..,aku membatin, aku melihat ada beberapa ekor sapi di samping mesjid, anak anak.. banyak sekali mengerumuni sapi tersebut, aku pun jadi ikut ikutan melihat sapi sapi yang akan dipotong besok pagi, aku memperhatikan sapi sapi tersebut, dia asyik makan, tanpa menghiraukan kami yang memperhatikannya. Dan sapi sapi itu sepertinya juga tidak menyadari bahwa besok mereka akan mati.., mereka tidak peduli, tetap saja makan.

Aku jadi berpikir, sapi sapi ini tidak ada bedanya dengan manusia. Manusia juga asyik saja makan, mengumpulkan harta, sepertinya dia tidak tahu, kematian selalu mengintainya.

***

Sepulang dari shalat id, aku berbaring di kasur sambil nunggu pemotongan hewan qurban, “”potong hewan qurbanya kan nanti pukul sepuluh juga””, pikirku, tadi setelah khatib selesai khutbah, ta’mir mengumumkan, karena hari ini hari jum’at, maka memotong hewan qurban pukul sepuluh, dan setelah itu menguliti dan membagi dagingnya kepada yang berhak setelah shalat jum’at, kalo tidak selesai dilanjutkan setelah shalat ashar.

***

Assalamu alaikum....! ada suara salam

Aku tidak langsung menjawab, ternyata aku tadi tertidur, sudah pukul berapa sekarang, aku meraih hpku, kuliat, ternyata sudah pukul 11, astagqfirullah... aku tertidur lama sekali.

Assalamu alaikum...! suara salam kembali, api aku kenal suaranya, salah satu teman jamaah di mesjid, memang dia sudah biasa datang ke rumahku, yah... hanya sekedar ngobrol, kadang kadang juga diskusi tentang agama, bahkan kadang kadang neyerempet masalah politik juga, meskipun suara kami tak bakalan merubah negeri ini, yang saya rasa sudah jauh dari harapan para pejuang kemerdekaan dulu, sudah jauh menyimpang, ya korupsinyalah, kolosinya lah, nepotisenya lah. Kesewenang wenangan para penguasanya. Hukum sepertinya hanyalah hiasan dibibir saja. seperti kemaren saja saya lihat berita di TV ada seorang nenek yang mencuri buah kakau (coklat) dihukum berbulan bulan, tapi kalau pejabat yang mencuri uang rakyat miliaran, masih berlenggang dengan bebasnya, seperti tak tersentuh hukum, bahkan si pejabat seperti tidak berdosa saja. Aku ingat ceramah pak ustaz di mesjid ku, “...nanti semua apa yang kita perbuat akan dipertanggung jawabkan di hadapan Hakim Paling Agung, pada saat itu mulut kita dikunci, yang jadi saksi tangan kita, kaki kita, kita tidak bisa berkelit, tidak bisa berbohong..., jelas pak ustaz. ...Harta kita yang kita dapat, akan ditanya dari mana dan untuk apa..., tambah pak ustaz.

Saya jadi heran, dia berusaha menutupi kesalahannya, kalo sudah terlanjur disidangkan, dia cari pengacara yang handal, supaya bisa bebas, yah.. di dunia sih bisa cari pengacara, di dunia dia bisa saja bebas, apakah di hadapan pengadilan Allah dia bisa cari dan bayar pengacara..???, apakah dia bisa bebas ???.

Dia juga tidak mikir kah...dia tumpuk harta, sementara rakyat buuaaanyakkk, yang kekurangan makan, padahal Nabi pernah menyampaikan tidak beriman seseorang yang perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan.

Assalamu alaikum....! yang diluar memberi salam lagi, mengagetkan lamunanku

Wa alaikum salam...jawabku, aku beranjak dari tempat tidur, lalu membuka pintu, tepat dugaan ku, yang datang teman jamaah di mesjid. Masuk ...., aku menyilakan.

He...kenapa tidak ikut membantu memotong hewan..., tanyanya

Apakah sudah selesai..., tanyaku, tanpa menjawab pertanyaannya

Suudaaaaah...., jawabnya panjang.

aku tertidur...., jawab ku singkat.

Bikin minum sendiri..., perintahku, memang dia sudah biasa, kalau ke rumah ku bikin kopi sendiri.

Banyak yang datang di Mesjid... tanya ku,

Yah.. lumayan, jawabnnya

Sudah ku tebak, setiap ada gotong royong, yang datang tidak banyak, tapi nanti waktu membagi dagingnya baru banyak yang datang.

***

Selesai shalat jum’at aku pulang dulu, makan siang, istirahat sebentar, aku ke mesjid mau bantu teman yang mengiris daging qurban. Cuaca sangat cerah bahkan terbilang panas, tidak seperti pagi tadi waktu mau shalat id hujan mengguyur kampung kami, tapi tidak lama.

Cuaca semakin panas, namun tidak menyurutkan teman teman dalam bekerja, cuaca semakin panas, keringat ku sudah tidak bisa dibayangkan lagi, bajuku basah oleh keringat. Aku jadi ingat cerita guru mengajiku dulu, beliau mengatakan, nanti di padang mahsar, matahari sangat dekat sekali, karena sangat dekatnya orang orang ada yang berenang di air keringatnya sendiri, ada yang keringatnya hanya sampai kaki, ada yang sampai lututnya ada juga yang sampai pinggangnya, tergantung amal ibadahya, cerita guru mengajiku dulu.

Tidak terasa sudah ashar, suara azan menggema keras sekali, aku langsung pulang, mau membersihkan badan, karena bau keringat bercampur percikan darah hewan qurban, setelah mandi aku langsung ke mesjid untuk shalat ashar, ini keherananku yang kedua, sudah mau qomat, tapi teman teman yang lain kok masih saja bekerja, apakah tidak dengar suara azan. Akhirnya muazzin qomat, yang ikut shalat ashar berjamaah tidak sampai separohnya, karena yang lain masih asyik memotong dan mengiris serta menimbang daging untuk dibagikan. Mereka begitu semangatnya mengerjakan, tanpa menghiraukan kewajiban yang sangat besar, yaitu shalat berjamaah.

Selesai shalat ashar, teman teman yang tadi bekerja, masih saja bekerja, ada salah satu teman saya nyeletuk, hey... shalat dulu, nanti dilanjutkan setelah shalat. Nanti dulu ...tanggung nih...jawab yang lain, nanti keburu habis waktu shalatnya... balas teman yang nyeletuk tadi. Sebentar lagi..., kan waktunya masih panjang... jawab yang bekerja, seperti yakin sekali waktunya masih ada. Padahal tidak ada yang tahu, kapan kita diambil, mungkin satu hari lagi, mungkin satu jam lagi, bahkan mungkin satu detik lagi.

Padahal kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik, apakah kita tidak menyadari bahwa hari hari yang kita lewati justru semakin mendekatkan kita kepada kubur. Karena kematian itu pasti dan tidak ada yang bisa melarikan diri dari kematian. Sebagaimana firman Allah:

“tiap tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudia hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”.(QS.29:57)

Dalam surah lain Allah berfirman: “ sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesunguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. 62:8).

Astaqfirullah al azim...., kenapa aku jadi banyak melihat kekurangan orang, aku sendiri bagaimana, apakah shalatku sudah betul, apakah shalatku diterima oleh Allah. Ya ...Allah ampunilah hamba ini, yang tak luput dari dosa.....

***

Biak, 27 November 2009 M/ 10 Zul Hijjah 1430 H

0 komentar:

Poskan Komentar