Sabtu, 28 November 2009

Perayaan Idul Adha sebagai simbul persatuan kaum Muslimin.

Oleh: Abdun Albarra

Suara takbir, tahmid dan tahlil yang menggema ke angkasa sejak terbenam matahari kemaren, hingga selesainya hari tasyrik tanggal 13 dzulhijjah, adalah proklamasi persatuan umat Islam sedunia. Kita menyaksikan betapa indahnya kebesaran kaum Muslimin mendatangi shalat ied, dan betapa kuatnya pertautan hati kita dalam ruku’ dan sujud di hadapan sang Khaliq. Pprosesi ini bernilai sakral dan bukti nyata dalam membangun kekuatan umat Islam.

Suasana yang sama hari ini, juga dirasakan jutaan kaum Muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah al Mukarrah. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan niat dan tekad yang sama, mencapai haji yang mabrur. Prosesi ibadah ini, disamping bermakna ritual pelaksanaan rukun Islam, juga menjadi simbul persatuan umat Islam.

Jutaan kaum Muslimin saat ini yang sedang merajut kebersamaan dengan ikatan aqidah yang kokoh. Jarak yang jauh, suku, bangsa dan bahasa yang berbeda, kini menyatu dalam sebuah ritual besar, mereka berkumpul dalam satu tempat dengan pakaian yang sama, tidak ada lagi nampak kelihatan status sosial, tidak ada atasan dan bawahan, tidak ada lagi kaya dan miskin, semua menyatu dalam satu niat untuk mendapatkan ridha Allah sebagai haji yang mabrur, yang ganjarannya hanyalah surga. Mereka tafakkur dan zikir untuk takarrub kepada Allah, semua berkumpul menjadi satu di padang arafah.

Semoga nilai persatuan Idul Adha ini, menjadi semangat bagi kita untuk menyatukan kita sesame umat Islam, dan menjadi semangat bagi kita untuk selalu meningkatkat pengamalan ajaran Islam, dan selalu mengamalkan sunnah Rasulullah saw.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujaraat (49):13

Semuanya yang datang untuk melaksanakan ibadah haji, merupakan panggilan suci dari Allah swt, melalui NabiNya, sebagaimana firman Allah swt, sebagai berikut:

“Dan serulah manusia untuk menuaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yan jauh”. (al Hajj:27)

Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena ada dua ibadah besar dilaksanakan, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban, keduanya merupakan napak tilas kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya. maka kedua ibadah ini merupakan pengagungan akan syiar syiar Allah yang merupakan pertanda dan bukti ketaqwaan seseorang kepada Nya.

Kenapa kita disuruh untuk mengikuti kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, karena keagungan Nabi Ibrahim as dan keluarganya dalam kedekatannya kepada Allah swt. Ini merupakan pelajaran yang bagi kita sebagai umat Islam dalam mengarungi kehidupan ini, agar kita juga bisa dekat kepada Allah swt, dan kita mejadi orang yang bertaqwa. Mari kita simak firman Allah swt dalam Qur’an Surat 12 ayat 111,’

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Betapa beratnya ujian dan cobaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah swt Nabi Ibrahim AS akhirnya mengambil keputusan untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau memanggil putranya dengan pangilan yang diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat (37) ayat 102,

“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirlah apa pendapatmu?” “ Ia menjawab:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “

Ismail sebagai anak shaleh, senantiasa patuh kepada orang tua, tidak pernah membantah perintah orang tua, setia membantu orang tua di antaranya membangun Ka’bah Baitullah di Makkah.

Ibadah haji yang diawali dengan kesiapan seseorang menanggalkan atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain putih, tanpa dijahit yang disebut kain ihram, ini mencerminkan sikap tawaddu’ dan kesamaan antara seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah swt, karena dia sudah mengenal dirinya bahwa apalah artinya status sosial dihadapan Allah, semua sama hanya taqwanya yang membedakannya.

Dengan pakaian sederhana ini seorang akan lebih mudah mengenal Allah. Dengan berzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan siap menjalankan seluruh perintahNYa setelah itu. Dalam proses bimbingan semangat keagamaan yang cukup panjang ini seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai simbul perlawanan terhadap syaiton dan terhadap setiap yang menghalangi kita untuk melaksanakan ibadah kepada Allah. Kemudian segala kegiatan kehidupannya akan diaahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf mengelilingi satu titik focus yang bernama ka’bah. Tiitik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: yaitu “katakanlah: sesungguhnya shlatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (al An’am: 162).

Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seorag akan giat berusaha dan berikhtiyar untuk mencapai cita cita dalam naungan ridha Allah swt dalam bentuk sa’i antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian ibadah haji sarat dengat pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Penyembelihan hewan qorban yang menjadi bagian syar’at Islam, yang insya Allah kita laksanakan setelah shalat Ied ini adalah bentuk penjelmaan dari ketaqwaan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, ketaatan mereka akan perintah Allah, meskipun itu sangat berat dilaksanakan, namun karena itu perintah Allah, mereka tetap melaksanakan. Mereka telah mampu mengalahkan keingian nafsu dan tuntutan dunianya, karena sadar bahwa cinta dan ridhanya kepada Allah melebihi segalanya.

Maka kita juga hendaknya, harus mementingkan perintah Allah, kalau ada perintah Allah, maka kita harus bersegera untuk melaksankannya, jangan ditunda lagi, dengan alasan pekerjaan kita, misalnya kalau kita sudah tahu dan mendengar suara azan untuk shalat, kita sebagai hamba Allah, maka bersegeralah untuk berangkat ke mesjid untuk melaksanakan shalat, jangan lagi kita tunda, karena alasan apapun. Karena kalau kita menunda semenit saja, pada saat itu azal kita sudah sampai, malakal maut menjemput, sedangkat belum melaksanakan kewajiban kita, maka kita mati dalam keadaan membangkang perintah Allah, nau zubillah.

Kesimpulannya, semua ibadah yang kita laksanakan, harus ikhlas dengan landasan cinta dan taqwa kepada Allah swt, hindari diri kita dari riya.

Kalau kita melaksanakan ibadah haji, jangan hanya agar dipangil haji, yang penting adalah, bagaimana kehidupan kita setelah melaksanakan ibadah haji, ibadah kita semakin meningkat, tingkah laku kita semakin baik, tutur kata kita semakin sopan.

Kalau kita melaksanakan ibadah qorban, jangan hanya agar kita diangap orang yang darmawan, yang terpenting adalah, bagaimana kita setelah melaksanakan ibadah qorban, maka kita membuang sifat sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, seperti egois, sombong, suka bertengkar. Namun kita harus tambah tawaddu, selalu bekerja sama, selalu silaturrahmi.

Jadi kalau kita perhatikan dari pelaksanaan Ibadah Haji dan Ibadah Qurban mendidik kita untuk memelihara dan menjaga persatuan dan kesatuan, sebab dalam Ibadah haji dengan memakai pakaian ihram yang sama berwarna putih, dengan ucapan yang sama membaca Talbiyah serta niat yang sama mencari ridlo Allah, hal ini menunjukan bahwa umat islam harus satu sikap dan satu pandangan sehingga terpelihara keutuhan dan persatuan. Demikian juga Makna dari Ibadah qurban dengan dibagikannya daging kurban kepada orang lain, agar tumbuh rasa saling sayang menyayangi dan bila telah tertanam sayang menyayangi akan lahirlah persatuan dan kesatuan, mudah-mudahan dengan adanya Ibadah Haji dan Ibadah qurban tahun ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Amin ya robal alamin.

(biak, 12 November 2009)

0 komentar:

Poskan Komentar